Berita seputar kegiatan Pemerintah Kota Palembang klik di sini

13 Maret, Warga Perlu Waspada

Senin 01/03/10, 5:06 PM oleh Wahyu Hidayat.

  

March 13, People Need to Watch

Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra mengatakan, banjir yang terjadi di Kota Palembang merupakan fenomena alam.

“Biasanya ketinggian air terjadi pada 5 tahun sekali, melebihi ambang batas,” katanya, di sela-sela meninjau lokasi banjir di Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, dan Kecamatan Gandus, Senin (1/3).

Untuk mengantisipasi hal itu, Eddy meminta warga agar membangun rumah di atas ambang banjir. Begitu pula bangunan milik swasta dan pemerintah, Eddy meminta dibangun lebih tinggi. “Juga jalan-jalan setapak, harus dibangun di atas ambang banjir.”

Dia juga menginstruksikan camat dan lurah, serta Dinas Pekerjaan Umum untuk segera memberi patok batas banjir dan menyosialisasikan hal tersebut kepada warga.

Menurut Eddy, banjir yang melanda sejumlah kawasan di Palembang merupakan air kiriman dari daerah luar Palembang, misalnya, dari Kabupaten Musirawas.

Orang nomor satu di kota yang bervisi internasional ini, memprediksi banjir bakal mulai surut sekitar pukul 4 dini hari. “Tapi warga perlu waspada. Dari laporan yang kita dapat, ketinggian air akan naik lagi pada 13 Maret mendatang,” ujar dia.

Dia melanjutkan, mengantisipasi banjir, pihaknya juga telah mendirikan sejumlah posko di sejumlah titik. Puskesmas Pembantu di tiap-tiap kelurahan dan kecamatan juga diberdayakan. Termasuk penyediaan obat-obatan.

Sementara itu, menurut Ketua RT 07 Kelurahan Kemas Rindo Sutarso Suwito, banjir di daerahnya telah menggenangi hampir setengah pemukiman warga. “Sekitar 118 Kepala Keluarga yang rumahnya terendam,” kata Sutarso.

Yang terparah, katanya, mulai dari Sungai Nibung. Di situ, ketinggian air nyaris melumpuhkan aktivitas warga. Bahkan sungai itu tak kelihatan lagi.

“Warga di sana tak lagi menggunakan jalan setapak, tapi pakai sampan,” Sutarso menambahkan. (why)

Mayor of Palembang Eddy Santana Putra said the floods that occurred in the city of Palembang is a natural phenomenon.

“Usually the water levels occurred in 5 years, exceeding the threshold,” he said, in between reviewing the location of flooding at Kemas Rindo Village Rindo, Kertapati subdistrict, and Gandus subdistrict, Monday (1 / 3).

To anticipate it, Eddy asked residents to build houses on the brink of flooding. So did the building of private and government owned, Eddy asks built higher. “Also the paths, must be built on the verge of flooding.”

He also instructed the subdistrict head and the village elder, and the Department of Public Works to immediately provide flood boundary stakes and socialize it to the citizens.

According to Eddy, the floods that hit several areas in Palembang is a water delivery from outside the region of Palembang, for example, from the District Musirawas.

The number one man in the city of which international vision , would predict floods began to recede around 4 o’clock in the morning. “But people need to be alert. From the reports that we can, the water level will rise again on March 13 next, “he said.

He continued, anticipating a flood, his department has established a post at some point. Clinic centre in each village andsub district are also empowered. Including provision of medicines.

Meanwhile, according to the Chairman of 07 RT Kemar Rindo village Sutarso Suwito, flooding in the region has submerged almost half of the settlement residents. “About 118 head of family whose house flooded,” said Sutarso.

The worst, he said, ranging from Nibung River. There, the water level was almost paralyzed citizen activities. Even the river was not seen again.

“The people there no longer use the path, but use the boat,” Sutarso added. (why)





Pengunjung ke :
hit counters

Untuk mendapatkan tampilan terbaik sebaiknya menggunakan Mozzila Firefox browser.